Kamis, 30 Desember 2010
Bagaimana Seorang Muslim Berfikir
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS. Aali 'Imraan, 3:191)
Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?
Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?
Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?
Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?
Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Buku ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana mestinya" dan mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana mestinya". Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minuun, 23:115)
Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)
Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Bagaimana Seorang Muslim Berfikir
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS. Aali 'Imraan, 3:191)
Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?
Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?
Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?
Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?
Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Buku ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana mestinya" dan mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana mestinya". Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minuun, 23:115)
Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)
Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Mengenal Allah Lewat Akal
Lihatlah sekeliling anda dari tempat duduk anda. Akan anda dapati bahwa segala sesuatu di ruang ini adalah "buatan": dindingnya,a sendiri. pelapisnya, atapnya, kursi tempat duduk anda, gelas di atas meja dan pernak-pernik tak terhitung lainnya. Tidak ada satu pun yang berada di ruang anda dengan kehendak merekGulungan tikar sederhana pun dibuat oleh seseorang: mereka tidak muncul dengan spontan atau secara kebetulan.
Orang yang hendak membaca buku mengetahui bahwa buku ini ditulis oleh pengarangnya karena alasan tertentu. Tak pernah terpikir olehnya bahwa barangkali buku ini muncul secara kebetulan. Begitu pula, orang yang memandang suatu pahatan tidak sangsi sama sekali bahwa pahatan ini dibuat oleh seorang pemahat. Hal ini bukan mengenai karya seni saja: batu bata yang bertumpukan pun pasti dikira oleh siapa saja bahwa tumpukan batu bata sedemikian itu disusun oleh seseorang dengan rencana tertentu. Karena itu, di mana saja yang terdapat suatu keteraturan-entah besar entah kecil-pasti ada penyusun dan pelindung keteraturan ini. Jika pada suatu hari seseorang berkata dan menyatakan bahwa besi mentah dan batu bara bersama-sama membentuk baja secara kebetulan, yang kemudian membentuk Menara Eiffel secara lagi-lagi kebetulan, tidakkah ia dan orang yang mempercayainya akan dianggap gila?
Pernyataan teori evolusi, suatu metode unik penyangkal keberadaan Allah, tidak berbeda daripada ini. Menurut teori ini, molekul-molekul anorganik membentuk asam-asam amino secara kebetulan, asam-asam amino membentuk protein-protein secara kebetulan, dan akhirnya protein-protein membentuk makhluk hidup secara lagi-lagi kebetulan. Akan tetapi, kemungkinan pembentukan makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan Menara Eiffel dengan cara yang serupa, karena sel manusia bahkan lebih rumit daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini.
Bagaimana mungkin mengira bahwa keseimbangan di dunia ini timbul secara kebetulan bila keserasian alam yang luar biasa ini pun bisa teramati dengan mata telanjang? Pernyataan bahwa alam semesta, yang semua unsurnya menyiratkan keberadaan Penciptanya, muncul dengan kehendaknya sendiri itu tidak masuk akal.
Karena itu, pada keseimbangan yang bisa dilihat di mana-mana dari tubuh kita sampai ujung-ujung terjauh alam semesta yang luasnya tak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Jadi, siapakah Pencipta ini yang mentakdirkan segala sesuatu secara cermat dan menciptakan semuanya?
Ia tidak mungkin zat material yang hadir di alam semesta ini, karena Ia pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan menciptakan alam semesta dari sana. Pencipta Yang Mahakuasa ialah yang mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-Nya tanpa awal atau pun akhir.
Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang keberadaannya kita temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang menciptakan langit dan bumi dari kehampaan.
Meskipun kebanyakan orang mempunyai kemampuan untuk memahami kenyataan ini, mereka menjalani kehidupan tanpa menyadari hal itu. Bila mereka memandang lukisan pajangan, mereka takjub siapa pelukisnya. Lalu, mereka memuji-muji senimannya panjang-lebar perihal keindahan karya seninya. Walau ada kenyataan bahwa mereka menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan hal itu di sekeliling mereka, mereka masih tidak mengakui keberadaan Allah, satu-satunya pemilik keindahan-keindahan ini. Sesungguhnya, penelitian yang mendalam pun tidak dibutuhkan untuk memahami keberadaan Allah. Bahkan seandainya seseorang harus tinggal di suatu ruang sejak kelahirannya, pernak-pernik bukti di ruang itu saja sudah cukup bagi dia untuk menyadari keberadaan Allah.
Tubuh manusia menyediakan begitu banyak bukti yang mungkin tidak terdapat di berjilid-jilid ensiklopedi. Bahkan dengan berpikir beberapa menit saja mengenai itu semua sudah memadai untuk memahami keberadaan Allah. Tatanan yang ada ini dilindungi dan dipelihara oleh Dia.
Tubuh manusia bukan satu-satunya bahan pemikiran. Kehidupan itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, entah bisa diamati oleh manusia entah tidak. Dunia ini mengandung begitu banyak makhluk hidup, dari organisme uniseluler hingga tanaman, dari serangga hingga binatang laut, dan dari burung hingga manusia. Jika anda menjumput segenggam tanah dan memandangnya, di sini pun anda bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang berlainan. Di kulit anda pun, terdapat banyak makhluk hidup yang namanya tidak anda kenal. Di isi perut semua makhluk hidup terdapat jutaan bakteri atau organisme uniseluler yang membantu pencernaan. Populasi hewan di dunia ini jauh lebih banyak daripada populasi manusia. Jika kita juga mempertimbangkan dunia flora, kita lihat bahwa tidak ada noktah tunggal di bumi ini yang tidak mengandung kehidupan. Semua makhluk ini yang tertebar di suatu bidang seluas lebih daripada jutaan kilometer persegi itu mempunyai sistem tubuh yang berlainan, kehidupan yang berbeda, dan pengaruh yang berbeda terhadap keseimbangan lingkungan. Pernyataan bahwa semua ini muncul secara kebetulan tanpa maksud atau pun tujuan itu gila-gilaan. Tidak ada makhluk hidup yang muncul melalui kehendak atau upaya mereka sendiri. Tidak ada peristiwa kebetulan yang bisa menghasilkan sistem-sistem yang serumit itu.
Semua bukti ini mengarahkan kita ke suatu kesimpulan bahwa alam semesta berjalan dengan "kesadaran" (consciousness) tertentu. Lantas, apa sumber kesadaran ini? Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Tidak ada satu pun yang menjaga keserasian tatanan ini. Keberadaan dan keagungan Allah mengungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta. Sebenarnya, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. Sekalipun demikian, mereka masih mengingkarinya "secara lalim dan angkuh, kendati hati sanubari mereka meyakininya" sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. (Surat an-Naml, 14)
Buku ini ditulis untuk menunjukkan kenyataan yang diingkari oleh sebagian orang ini karena keberadaannya asing menurut perhatian mereka, dan juga untuk membongkar penipuan dan penyimpulan jahiliyah yang menjadi sandaran mereka. Karena inilah maka banyak persoalan yang ditelaah di buku ini.
Orang yang membaca buku ini akan segera lebih mengamati bukti-bukti keberadaan Allah yang tak terbantah dan menyaksikan bahwa keberadaan Allah mencakup segala benda: "akal" mengetahui hal ini. Sebagaimana Ia menciptakan tatanan yang menyeluruh ini, Dialah yang juga memeliharanya dengan tak henti-hentinya.
Senin, 23 November 2009
Cita Rasa Seni Warna Ilahi
Pernahkah terpikir oleh anda seperti apa jadinya hidup dalam sebuah dunia tanpa warna? Bebaskanlah diri anda sejenak dari pengalaman anda, lupakan semua yang pernah dipelajari dan mulailah gunakan imajinasi anda. Cobalah untuk membayangkan badan anda, orang-orang disekitar anda, lautan, langit, pohon-pohon, bunga-bunga, semuanya berwarna hitam. Bayangkan bahwa tak ada warna di sekeliling kita. Coba pikirkan apa yang akan anda rasakan jika orang, kucing-kucing, anjing-anjing, burung-burung, kupu-kupu, dan buah-buahan tidak berwarna sama sekali. Anda pasti tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?
Sebagian besar orang mungkin tidak pernah berpikir tentang betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka atau bertanya-tanya dalam hati bagaimana warna yang beraneka ragam itu ada di bumi ini. Mungkin mereka juga tidak pernah berpikir seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Hal ini disebabkan karena setiap orang yang dapat melihat dilahirkan ke dalam dunia yang penuh warna. Walaupun demikian, sebuah model dunia yang hitam putih, tanpa warna, bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, hal yang sangat mengagumkan adalah kehidupan kita yang berada dalam suatu dunia yang benderang, dan penuh warna-warni. (Dalam bab-bab selanjutnya, kami akan mendiskusikan secara rinci kenapa adanya dunia yang penuh warna-warni ini menjadi demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dianggap hanya mempunyai warna hitam, putih dan nuansa warna abu-abu. Akan tetapi sebenarnya hitam, putih dan nuansa abu-abu adalah warna-warna juga. Dengan demikian, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa perlu untuk menyebut sebuah warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan warna dengan pernyataan-pernyataan seperti "saat itu tidak ada warna, gelap sama sekali", "tak ada warna di wajahnya, putih sama sekali". Sebenarnya, itu semua bukanlah penjelasan tentang ketiadaan warna, tapi itu hanyalah sebuah dunia yang hitam putih.
Cobalah, hanya untuk sedetik, untuk membayangkan bahwa tiba-tiba saja semua zat kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, semua akan bercampur dengan hal lainnya dan akan menjadi tidak mungkin untuk membedakan suatu objek dengan lainnya. Tidaklah mungkin untuk melihat, misalnya, sebuah jeruk berwarna oranye, strawberi merah atau bunga-bunga aneka warna yang ada di atas sebuah meja kayu berwarna coklat, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak coklat, dan tidaklah juga strawberi itu berwarna merah. Betapa tidak nyamannya bagi seseorang untuk hidup, walaupun hanya untuk sesaat, dalam dunia tanpa warna seperti itu, yang bahkan juga sulit untuk dijelaskan.
Warna memiliki peranan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam memfungsikan ingatannya dengan benar, dan dalam memenuhi fungsi-fungsi belajar dari otaknya. Hal ini disebabkan karena manusia dapat memperoleh hubungan-hubungan yang tepat antara kejadian-kejadian dan tempat-tempat, orang-orang dan benda-benda hanya dari bentuk, tampak luar dan warna-warna mereka. Pendengaran atau rabaan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek-objek. Bagi manusia, dunia luar hanya dapat berarti jika hal ini dilihat secara keseluruhan dengan warna-warnanya.
| Kita selalu melihat dunia penuh dengan warna-warni |
![]() ![]() Dengan membandingkan gambar-gambar di atas dan di bawah ini, kita akan dapat lebih mudah memahami betapa nikmatnya kita dapat melihat dunia penuh warna. Warna-warni adalah salah satu berkah yang Allah berikan kepada manusia di bumi ini. |
Kemampuan untuk mengenali berbagai objek dan lingkungan sekeliling kita bukanlah satu-satunya keuntungan adanya keanekaragaman warna. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberi kenikmatan yang sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detailnya, manusia telah dilengkapi dengan sepasang mata, yang rancangannya sangat istimewa. Dalam dunia makhluk hidup, mata manusia adalah yang paling fungsional dan dapat merasakan warna-warni dalam detail yang sekecil-kecilnya, sedemikian rupa sehingga mata manusia sensitif untuk berjuta-juta warna.1 Jelaslah bahwa alat pelihat manusia yang bekerja sedemikian sempurnanya telah dirancang khusus untuk dapat melihat dunia yang penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat mengerti adanya suatu keteraturan di alam semesta hanyalah manusia karena ia mempunyai kemampuan untuk berfikir dan menimbang. Dengan demikian, berdasarkan apa yang telah diuraikan terdahulu, kita dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
Setiap detail, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia untuk mengakui dan dengan demikian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa agar menarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan kesimetrisan sempurna yang umum terdapat pada warna, baik dalam dunia makhluk hidup maupun benda mati. Hal ini tentu saja membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang suka merenung, seperti misalnya:
Apa yang membuat bumi itu demikian beraneka warna? Bagaimana warna-warna itu, yang membuat dunia kita sangat indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan diantara warna-warna tersebut?
Mungkinkah dapat dikatakan bahwa segala yang ada itu muncul begitu saja oleh perubahan-perubahan tak terarah yang terjadi karena suatu rantai rangkaian kebetulan belaka?
Dapat dipastikan, tak ada yang akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apapun, apalagi jutaan warna-warni. Cobalah amati sayap seekor kupu-kupu atau berbagai bunga yang beraneka warna, yang masing-masing bagaikan suatu keajaiban seni. Jelaslah tidak mungkin bagi akal sehat untuk menghubungkan semua hal ini dengan suatu proses-proses yang tidak disengaja.
Agar dapat diperoleh pengertian yang lebih baik tentang fakta ini, marilah kita mengambil sebuah contoh. Saat seseorang melihat sebuah lukisan menggambarkan pohon-pohon dan bunga-bunga di alam, ia tak akan berkata, atau bahkan hanya untuk berfikir bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain yang disengaja dalam lukisan ini dapat muncul begitu saja karena kebetulan. Jika seseorang datang dan berkata, "kotak-kotak cat itu terguling ditiup angin, lalu catnya tercampur, dan dengan pengaruh hujan dll., and setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk", pastilah tak ada orang yang percaya. Ada suatu hal yang sangat menarik disini. Meskipun tak ada seorangpun yang akan menyatakan sesuatu yang tak masuk akal seperti itu, namun begitu beberapa orang dapat menegaskan bahwa warna dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tak disengaja seperti itu. Demikianlah, untuk menjelaskan masalah ini, evolusionis menyatakan, dengan didukung berbagai argumen, bahwa ini adalah hasil dari suatu kebetulan dan mereka menghasilkan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengeluarkan peryataan-peryataan tak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan yang nyata, dan dengannya akan sulit untuk mencapai kesepakatan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari kebutaan ini dengan menggunakan pemikirannya, akan mengerti bahwa ia sebenarnya hidup di dalam suatu lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Ia juga akan sepenuhnya mengakui bahwa suatu lingkungan demikian yang dilengkapi dengan kondisi yang paling tepat untuk kelestarian hidup manusia tidak mungkin terjadi begitu saja karena kebetulan.
Seperti orang yang berfikir, begitu melihat lukisan, ia langsung mengakui bahwa lukisan ini ada pelukisnya, ia juga akan mengerti bahwa lingkungan sekelilingnya yang berwarna-warni, penuh keselarasan dan demikian indahnya pasti juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, Yang tak bersekutu dalam penciptaan, Yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dengan dilimpahi banyak sekali yang indah-indah, dan dihiasi dengan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan ada dalam keselarasan yang sempurna dengan yang lainnya. Allah menggambarkan dalam Al Qur'an keunikan dari rasa seni-Nya dalam penciptaan sebagai berikut:
"Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah." (Surat Al Mulk: 3-4)
Beberapa detail memiliki tempat yang penting dalam pikiran-pikiran manusia dan hal itu tak akan pernah berubah. Mari kita mulai dengan pohon-pohon, yang sangat kita kenal. Kemungkinan besar, warna pohon-pohon itu hijau atau berbagai corak warna hijau. Kita juga tahu bahwa pada musim gugur, dedaunan berubah warna. Mirip dengan itu, langit berwarna biru, nuansa abu-abu saat mendung atau kuning dan merah saat matahari terbit dan terbenam. Warna-warna buah tak pernah berubah; buah aprikot dan buah cerry yang kaya dan beraneka warna telah tertentu warnanya, dan selalu kita kenal. Setiap makhluk hidup dan setiap objek yang dipegang dibawah cahaya memiliki warna. Perhatikan baik-baik berbagai benda di sekeliling anda. Apa yang anda lihat? Meja, kursi, pepohonan yang terlihat dari jendela, langit, dinding rumah, wajah-wajah orang lain disekeliling anda, buah yang anda makan, buku yang anda baca saat ini… Masing-masing mempunyai warna yang berbeda. Pernahkah anda pikir bagaimana seluruh warna-warni ini dibentuk dan ditata?
Mari secara umum kita teliti apa yang diperlukan untuk pembentukan warna-warni yang memainkan peranan penting dalam kehidupan (Hal-hal ini akan didiskusikan dengan detail kemudian). Untuk pembentukan sebuah warna, misalnya, merah atau hijau, setiap proses berikut ini harus terjadi dan, lebih penting lagi, harus benar urutannya.
1. Kondisi pertama yang diperlukan untuk pembentukan warna adalah adanya cahaya. Dalam hal ini, ada baiknya untuk mulai dengan memperhatikan sifat-sifat cahaya yang datang dari matahari.
Untuk pembentukan warna-warna, cahaya yang datang dari matahari harus memiliki panjang gelombang tertentu untuk menghasilkan warna-warna.Bagian cahaya ini, yang dikenal sebagai "cahaya tampak", dibandingkan dengan semua cahaya lain yang dipancarkan oleh matahari adalah satu berbanding 1025. Ini hampir tak dapat dipercaya, hanya sebagian kecil sekali dari cahaya matahari yang diperlukan untuk pembentukan warna-warna mencapai bumi.
2. Sesungguhnya, sebagian besar sinar matahari yang disebarkan oleh matahari ke seluruh jagat raya mengandung beberapa karakteristik yang dapat merusak mata. Untuk itu, cahaya yang tiba ke bumi harus dalam suatu bentuk tertentu yang dapat dengan mudah dirasakan oleh mata dan tidak menyakitinya. Untuk itu, sinar-sinar ini harus melewati suatu penyaring. Penyaring raksasa ini adalah "atmosfir" yang meliputi bumi.
3. Cahaya yang melewati atmosfir tersebar di seluruh muka bumi, dan saat menumbuk objek-objek yang ditemuinya, cahaya ini dipantulkan. Objek-objek tempat jatuhnya cahaya harus merupakan jenis yang tidak menyerap cahaya tetapi memantulkannya. Dengan kata lain, kualitas struktur objek-objek harus juga selaras dengan cahaya yang mencapai bumi agar warna dapat terbentuk. Kondisi ini juga dipenuhi dan gelombang cahaya baru dipantulkan dari objek-objek tempat menumbuknya cahaya yang datang dari matahari.
4. Langkah pokok lain dalam proses pembentukan warna adalah perlunya indera yang dapat menerima gelombang cahaya, yang tidak lain adalah mata. Adalah hal yang sangat pokok bahwa gelombang cahaya juga selaras dengan organ-organ penglihatan.
5. Sinar yang datang dari matahari harus melewati lensa-lensa dan lapisan-lapisan mata dan kemudian diubah menjadi impuls-impuls syaraf di retina. Sinyal-sinyal ini kemudian harus diangkut ke pusat penglihatan pada otak, yang bertugas mengolah indera penglihatan.
6. Ada satu langkah terakhir yang harus dipenuhi agar kita dapat 'melihat' warna. Tahap akhir dalam pembentukan warna-warna adalah penafsiran sinyal-sinyal listrik, yang masuk ke pusat penglihatan otak, sebagai "warna" oleh sel-sel syaraf yang sangat khusus yang terdapat di sana.
Seperti telah terlihat, untuk pembentukan sebuah warna, diperlukan suatu urutan proses-proses yang sangat detail dan saling tergantung satu sama lain.
Melalui lapisan-lapisan khusus yang dimilikinya, atmosfir menyerap hampir semua sinar berbahaya yang datang dari matahari atau dari luar angkasa. Allah telah merancang setiap lapisan ini untuk kehidupan di muka bumi |
Dari semua infomasi yang kita miliki tentang warna, terlihat bahwa setiap proses yang terjadi selama pembentukan warna diatur dalam suatu kesetimbangan yang rumit. Tanpa adanya kesetimbangan ini, tidak bisa tidak, kita akan berada dalam suatu dunia gelap yang kabur, bukannya ada dalam dunia penuh warna-warni yang jelas, dan bahkan mungkin akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Anggaplah diantara hal-hal tersebut di atas, ada satu – sel-sel syaraf yang merasakan sinyal-sinyal listrik yang dibangkitkan oleh retina – tidak ada. Cahaya matahari menjadi berada di luar spektrum tampak, selain itu juga bagian-bagian mata yang lain tidak akan berfungsi secara utuh, dan juga keberadaan atmosfir tidaklah akan cukup dan dapat menggantikan kekurangan ini.
Peran Retina dalam Melihat
Marilah kita selidiki retina lebih dekat dan lebih detail. Anggaplah bahwa zat pewarna bernama "rhodopsin", yang bekerja pada retina, tidak ada. Rhodopsin adalah zat yang berhenti berfungsi saat cahaya terang benderang tetapi berfungsi kembali dalam kegelapan. Mata tak dapat melihat dengan jelas saat cahaya remang-remang kecuali jika sejumlah tertentu rhodopsin dihasilkan pada mata. Fungsi rhodopsin adalah untuk meningkatkan efisiensi dan dengannya mata membangkitkan impuls syaraf dari cahaya yang remang-remang. Zat ini dihasilkan sebanyak kebutuhan, tepat pada saat zat ini diperlukan. Saat kesetimbangan rhodopsin dapat terpelihara, citra-citra menjadi jelas. Apa yang akan terjadi jika rhodopsin, yang sangat berpengaruh dapat proses penglihatan, tidak ada? Jika hal itu terjadi, orang hanya mampu melihat dibawah cahaya terang.2 Dengan demikian terbukti bahwa ada sistem yang sempurna dalam mata, yang telah dirancang sampai dengan detail yang sekecil-kecilnya.
Lalu, karya seni siapakah sistem ini, yang menyelamatkan kita dari kegelapan dan menyajikan sebuah dunia penuh warna kepada kita?
Setiap tahap yang telah disebutkan sejauh ini meliputi suatu rangkaian proses-proses, yang memerlukan adanya kebijaksanaan, keinginan dan kekuasaan saat mereka diciptakan. Jelaslah bahwa tidak mungkin suatu rantai dari proses-proses yang hadir dalam keselarasan seperti ini terbentuk secara kebetulan. Juga tidaklah mungkin suatu sistem seperti ini terbentuk dengan berlalunya waktu. Hasilnya tak akan berubah sama sekali jika jutaan atau bahkan milyaran tahun dibiarkan berlalu. Sistem-sistem yang menghasilkan suatu dunia yang beraneka warna tidak akan pernah muncul secara kebetulan. Sistem-sistem sempurna seperti itu hanya dapat muncul sebagai hasil dari desain khusus, atau dengan kata lain mereka diciptakan. Allah memiliki cita rasa seni abadi dan kebijaksanaan yang meliputi seluruh jagat raya. Contoh-contoh dari cita rasa seni Ilahi dalam penciptaan yang tiada taranya tersebar di seluruh bagian jagat raya. Desain unik yang jelas terlihat dalam pembentukan warna pastilah juga hasil ciptaan Allah yang tak bersekutu. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." (Al-Baqarah: 117)
Warna adalah suatu konsep yang membantu kita mengenali sifat-sifat berbagai objek dan mendefinisikannya dengan lebih tepat. Jika kita pikirkan tentang warna objek-objek di sekeliling kita, dengan mudah dapat kita lihat betapa beranekawarnanya keadaan sekeliling kita. Segala sesuatu, baik yang hidup atau pun yang mati, memiliki warna. Makhluk hidup dari satu spesies memiliki warna tertentu yang sama disemua tempat di dunia. Kemana pun anda pergi, daging buah semangka selalu berwarna merah, buah kiwi selalu hijau, lautan selalu bernuansa warna kebiruan dan kehijauan, salju putih, lemon kuning, warna gajah akan sama di mana-mana di seluruh dunia seperti halnya warna pepohonan. Warna-warna itu tidak akan berubah. Ini juga berlaku untuk warna-warna buatan. Kemana pun anda pergi di muka bumi ini, kalau anda mencampur merah dan kuning, akan diperoleh warna oranye, atau jika hitam dicampur dengan putih anda akan memperoleh warna abu-abu. Hasilnya akan selalu sama.
| Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi (Q.S. Al-Baqarah:255) |
Sampai titik ini, mungkin akan ada gunanya untuk berfikir dengan cara lain. Pertama, mari kita berfikir dengan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana warna pada berbagai objek dibuat. Kita dapat menjelaskannya dengan sebuah contoh.
Bayangkan anda sedang melangkah memasuki toko dan melihat kain dengan berbagai desain dan model, dengan warna-warni yang selaras satu sama lainnya. Tentu saja, kain-kain itu tidak hadir begitu saja; seseorang secara sadar menggambar rancangannya, menentukan warna-warnanya, mencelup kain itu beberapa kali, dan setelah beberapa tahap antara, mereka memajangnya di toko itu. Singkatnya, kehadiran kain-kain ini tergantung kepada orang yang merancang dan memproduksinya.
![]() Tidak akan ada yang akan berkata bahwa kain-kain yang terlihat pada gambar ini hadir begitu saja karena kebetulan, dan tak ada perancangnya. Sama halnya dengan itu, tidaklah dapat dikatakan bahwa pelangi, kupu-kupu, bunga-bungaan, makhluk-makhluk laut, dan awan, singkatnya, semua yang ada di muka bumi ini tdak ada perancangnya. Rancangan warna-warna dan bentuk-bentuk dari semua ini adalah milik Allah, Yang menciptakan segala sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya |
Saat anda melihatnya, tak akan anda katakan bahwa kain-kain itu ada disana secara tidak sengaja, atau bahwa desain-desain kain itu diperoleh secara kebetulan sebagai akibat dari cat-cat yang tumpah di atas kain itu. Sesungguhnya, tak ada seorangpun yang berakal sehat akan menyatakan hal seperti itu. Sesungguhnya, ada sebuah Kehendak sadar yang menyajikan kepada kita pemandangan yang kita lihat di alam sepanjang waktu: kupu-kupu, bunga-bunga, tempat-tempat aneka warna di dasar laut, pepohonan, dan awan, dan lain-lain, seperti halnya kain-kain itu disajikan kepada kita.
Keanekaragaman di jagat raya adalah konsekuensi dari rancangan khusus. Rancangan ini diwujudkan dalan setiap tahapan mulai dari pembentukan sinar sampai sinar itu menjadi suatu citra warna-warni di otak kita. Inilah satu bukti terkuat adanya seorang Pemilik, yang tidak lain, Perancang rancangan warna-warni. Pastilah, Allah, Yang memiliki kebijaksanaan dan kekuasaan yang tidak terhingga keunggulannya untuk mencipta, menciptakan semua warna dan desain di jagat raya yang dikagumi semua orang.
Tahap-tahap pembentukan warna telah diuraikan sebelumnya. Dalam bab ini, rancangan unggul yang jelas terlihat dalam warna akan diselidiki di bawah judul-judul terpisah berdasarkan urutan perjalanan dari cahaya ke mata dan otak.
1. Cahaya, Kehidupan dan Warna
Matahari hanyalah salah satu dari milyaran bintang-bintang berukuran sedang yang ada di jagat raya. Yang menjadikan matahari bintang terpenting di jagat raya bagi kita adalah ukurannya, hubungannya dengan planet-planet yang bergerak mengelilinginya dan sinar tertentu yang dipancarkannya. Kalau saja ada salah satu karakteristik matahari yang berbeda dari kondisi saat ini, niscaya tidak akan ada kehidupan di bumi. Sesungguhnya, matahari memiliki kondisi yang ideal bagi kehidupan untuk muncul dan tetap berlangsung di muka bumi.3 Inilah sebabnya kenapa para ilmuwan menyebut matahari sebagai "sumber kehidupan" di bumi.
Cahaya matahari adalah satu-satunya sumber panas, yang memanasi bumi dengan cara yang paling tepat, dan cahayanya membantu tumbuh-tumbuhan dalam melakukan fotosintesis. Telah lazim diketahui bahwa panas dan fotosintesis sangat penting bagi kehidupan. Selain itu juga, keberadaan siang hari dan dunia yang penuh warna tergantung kepada sinar yang dipancarkan dari matahari. Dalam hal ini, muncul pertanyaan dalam pikiran tentang bagaimana sinar-sinar ini, sumber energi utama untuk bumi, bisa ada. Jelaslah bahwa sinar-sinar ini, yang merupakan kunci kehidupan di bumi, bermanfaat untuk tujuan-tujuan penting tersebut, dan pada saat yang sama, memiliki semua karakteristik untuk hal itu, tak dapat dihubungkan dengan suatu kebetulan. Alasan untuk hal ini akan dapat dipahami dengan lebih baik jika struktur cahaya ini di teliti.
Energi yang dipancarkan oleh bintang-bintang bergerak dalam gelombang melalui suatu ruang hampa. Serupa dengan itu, cahaya dan panas juga dipancarkan oleh matahari, yang juga adalah sebuah bintang, sebagai energi dalam bentuk gelombang. Pergerakan energi yang dipancarkan bintang-bintang ini dapat dibandingkan dengan gelombang yang disebabkan oleh sebuah batu yang dilempar ke air danau. Sebagaimana halnya gelombang-gelombang di danau yang mempunyai panjang yang berbeda, demikian pula panas dan cahaya mempunyai panjang gelombang yang berbeda saat mereka menyebar.
![]() Semua kondisi yang penting untuk hadirnya kehidupan di muka bumi, secara langsung maupun tidak langsung, tergantung pada cahaya yang datang dari matahari. Pada sisi lain, dalam struktur sinar matahari tersebut ada sar rancangan yang tergantung kepada kesetimbangan yang sangat rumit |
Pada titik ini, mungkin ada gunanya untuk memberikan beberapa informasi tentang cahaya dengan panjang gelombang berbeda di jagat raya. Bintang-bintang dan sumber-sumber cahaya lain di jagat raya tidak memancarkan cahaya yang sama jenisnya. Sinar-sinar yang berbeda ini dapat dikelompokkan menurut panjang gelombang dan frekuensinya. Perbedaan panjang-panjang gelombang ini berada pada sebaran yang sangat luas. Sebagai contoh, panjang gelombang terpendek berukuran 1025 kali lebih kecil dibandingkan panjang gelombang yang terpanjang (1025 adalah angka yang sangat besar, terdiri dari angka 1 diikuti 25 angka nol dibelakangnya)4
Dalam seluruh spektrum, seluruh sinar yang dipancarkan oleh matahari dimampatkan ke dalam interval yang sangat pendek. 70% dari berbagai panjang gelombang yang dipancarkan matahari berada dalam suatu interval sempit, di antara 0.3 mikron sampai 1.50 mikron. (Satu mikron sama dengan 10-6 m) Dengan menyelidiki mengapa sinar matahari terbatas pada interval sempit seperti itu, kita sampai pada suatu kesimpulan menarik: sinar-sinar yang memungkinkan adanya kehidupan, dan warna, di bumi hanyalah sinar-sinar yang ada pada interval ini.
Fisikawan Inggris Ian Campbell, yang mendefinisikan desain luar biasa ini sebagai "sangat mengagumkan" dalam bukunya "The Energy and Atmosphere", menyinggung masalah ini:
"Bahwa radiasi dari matahari (dan dari banyak rangkaian bintang-bintang) harus terpusat ke dalam berkas spektrum elektromagnetik yang sangat kecil, yang menyediakan secara tepat radiasi yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan kehidupan di bumi, adalah sangat kebetulan."5
Bagian yang lebih besar dari daerah kecil radiasi yang dipancarkan oleh matahari dari spektrum elektromagnetik, suatu spektrum dengan suatu lebar tempat panjang gelombang terpanjangnya 1025 kali lebih besar dibandingkan yang terpendek, dinamai "cahaya tampak". Sinar-sinar yang terletak di bawah dan di atas interval ini, di sisi lain, mencapai bumi sebagai sinar-sinar infra merah dan ultra violet. Sekarang marilah kita lihat lebih lanjut sifat-sifat dari dua jenis sinar ini.
Sinar-sinar infra merah sampai di bumi dalam bentuk gelombang panas. Sinar-sinar ultra violet yang mengandung energi yang lebih besar, di sisi lain, dapat mempunyai efek yang berbahaya bagi makhluk hidup. Sinar-sinar infra merah melewati atmosfir, dan menyediakan panas, sehingga membuat bumi menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan. Sinar ultra violet, pada sisi lain, hanya dapat mencapai bumi dalam laju tertentu. Jika laju ini sedikit lebih besar daripada ukuran saat ini, sinar ini akan merusak jaringan daging makhluk hidup dan menyebabkan kematian masal, sedangkan jika sinar ini sedikit lebih rendah, energi yang diperlukan oleh makhluk hidup tidak akan tercukupi.
Hal-hal tersebut di atas adalah detail-detail yang penting sekali bagi kehidupan. Dari uraian tentang fungsi-fungsi dan kegunaan-kegunaan sinar-sinar yang dipancarkan dari matahari, terlihat adanya keteraturan dan kontrol pada setiap sistem yang ada di dunia. Jelaslah, tidak mungkin sistem seperti ini, kesetimbangan yang rumit yang telah kita dalami secara singkat, dapat terbentuk dengan kebetulan.
Dengan meneliti elemen lain dari sistem yang tanpa cacat ini, sekali lagi kita lihat ketidakmungkinan terjadinya hal ini sebagai konsekuensi dari suatu kebetulan.
2. Atmosfir: perisai pelindung bumi
Pada halaman-halaman terdahulu, telah disinggung bahwa sebagian sinar matahari berbahaya bagi kehidupan di bumi. Untuk menghindari akibat yang membahayakan ini, diperlukan suatu penyelesaian.
Mari kita berpikir bersama dan mencoba menemukan sebuah penyelesaian masalah ini dengan mengembangkan sistem yang efisien untuk menyaring sinar matahari. Kita juga sebaiknya menyadari fakta bahwa sistem ini haruslah sesuatu yang berfungsi ganda, yang akan melindungi dunia dari efek matahari yang berbahaya, menjamin bahwa sistem ini terpelihara secara permanen, tidak memerlukan pemeliharaan, dan juga mampu mencegah terjadinya beberapa kemungkinan ancaman lain pada bumi ini. Tentulah dalam situasi seperti ini, akan muncul beberapa alternatif penyelesaian. Sampai sejauh ini, diantara solusi-solusi yang dikemukakan, tidak ada yang seefisien dan seserbaguna filter yang saat ini meliputi bumi: atmosfir. Atmosfir bumi telah seratus persen sukses dalam menyaring sinar-sinar berbahaya. Atmosfir telah dirancang khusus oleh Allah untuk melindungi bumi.
Dengan menggunakan lapisan-lapisan khusus atmosfir, sinar matahari yang sampai ke bumi hanyalah sejumlah yang diperlukan karena atmosfir memproses sinar matahari secara spesifik berdasarkan panjang gelombangnya. Atmosfir kita seperti pabrik penyulingan raksasa yang dirancang untuk menyaring sinar-sinar ini. Sistem penyulingan raksasa yang tak ada taranya di bumi ini menjalankan proses-proses ini karena memang telah dirancang secara khusus oleh Allah. Allah telah menyatakan tentang penciptaan langit sebagai berikut (kata Arab 'sama' dapat berarti 'langit (heaven)' atau 'angkasa (skies)'):
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Q.S. Al-Mukmin: 57)
Sinar-sinar yang berasal dari matahari cukup spesifik. Sinar-sinar ini perlu memiliki beberapa sifat yang memungkinkannya menembus atmosfir dan mencapai bumi. Demikian juga atmosfir harus memiliki struktur khusus yang memungkinan lewatnya sinar-sinar ini. Jika tidak demikian, baik keberadaan atmosfir maupun ketepatan struktur sinar-sinar itu tidak akan ada gunanya. Karena sifat alami atmosfir yang dapat ditembus sinar, maka sinar-sinar yang berasal dari matahari dapat dengan mudah mencapai bumi. Ada hal penting lain yang perlu disebutkan. Dengan hanya memperbolehkan lewatnya cahaya tampak dan sinar-sinar infra merah dekat yang memang diperlukan untuk hidup, atmosfir mencegah agar seluruh sinar lain yang dapat merusak tidak dapat mencapai bumi. Atmosfir bumi telah berfungsi sebagai "penyaring" yang sangat penting dari sinar-sinar perusak yang berasal dari matahari maupun yang bukan berasal dari matahari, yaitu yang berasal dari luar angkasa.6
Michael Denton, seorang atronomer terkenal, menyatakan:
"Bahkan gas-gas atmosfir sendiri dengan sangat kuat menyerap radiasi elektromagnetik di daerah spektrum tepat di kedua sisi cahaya tampak dan infra merah dekat. Perlu dicatat bahwa dari seluruh daerah radiasi elektromagnetik, dari radio sampai dengan sinar gamma, satu-satunya daerah spektrum yang bisa menembus atmosfir hanyalah berkas yang sedemikian sempit yang meliputi cahaya tampak dan infra merah dekat. Dapat dikatakan bahwa tak ada radiasi sinar gamma, X, ultraviolet, infra merah jauh, dan gelombang mikro yang mencapai permukaan bumi."7
Terlihat jelas bahwa rancangan struktur atmosfir dikembangkan dengan sangat istimewa. Dari suatu spektrum yang lebarnya ditunjukkan dengan angka sebesar 1025, matahari hanya memancarkan sinar-sinar yang berguna bagi kita dan diperlukan untuk sebuah dunia penuh warna, dan atmosfir
terutama mengijinkan sinar-sinar yang tidak berbahaya, bahkan berguna, untuk mencapai bumi. Sebagai tambahan, karena sifat-sifat gas-gas yang ada di atmosfir, mata makhluk hidup, yang secara langsung menerima sinar matahari, dapat terlindung dari efek-efek yang berbahaya. Semua ini adalah bukti-bukti bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan proporsinya.
"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (Surat Al-Furqan:2)
3. Cahaya Menumbuk Benda
Cahaya yang datang dari matahari mencapai bumi dengan kecepatan 300.000 km per detik. Karena kecepatan cahaya itulah, kita selalu melihat sebuah dunia yang penuh dengan warna-warni. Lalu bagaimanakah citra-citra yang tak tersela ini dibuat?
Cahaya mencapai bumi dengan menembus atmosfir pada kecepatan yang luar biasa, dan menumbuk berbagai objek. Saat cahaya menumbuk suatu objek pada kecepatan seperti ini, ia berinteraksi dengan atom-atom objek itu dan memantul pada panjang gelombang yang berbeda yang bersesuaian dengan warna-wani yang berbeda. Dengan cara inilah, buku yang sekarang anda pegang, garis-garisnya, gambar-gambar, pemandangan yang anda lihat saat melihat keluar, pepohonan, gedung-gedung, mobil-mobil, angkasa, burung-burung, kucing-kucing, singkatnya semua yang anda lihat, memantulkan warna-warninya.
Molekul-molekul yang memungkinkan warna-warna ini dipantulkan adalah molekul-molekul pigmen. Warna yang dipantulkan oleh suatu objek tergantung kepada molekul-molekul pigmen yang ada pada objek tersebut. Setiap molekul pigmen mempunyai struktur atom yang berbeda. Nomor-nomor atom maupun jenis dan urutan atom-atom dalam molekul-molekul itu berbeda satu sama lain. Cahaya yang menumbuk pigmen-pigmen yang beraneka-ragam seperti ini kemudian dipantulkan dalam berbagai nuansa warna. Namun demikian, ini saja tidak cukup untuk pembentukan warna. Agar cahaya pantul yang memiliki suatu kualitas warna tertentu yang dapat dirasakan dan dilihat, ia harus mencapai alat pelihat yang mampu menginderanya.
4. Cahaya Datang kepada Mata
Agar sinar-sinar yang dipantulkan objek-objek dapat dilihat sebagai warna, sinar-sinar itu perlu mencapai mata. Keberadaan mata itu sendiri tidaklah cukup. Setelah mencapai mata, sinar-sinar itu harus diubah menjadi sinyal-sinyal syaraf yang mencapai sebuah otak yang bekerja secara selaras dengan mata.
Mari kita pikirkan tentang mata dan otak kita sendiri sebagai contoh yang paling dekat. Mata manusia adalah sebuah struktur yang sangat kompleks yang terdiri atas banyak organ dan bagian-bagian yang berbeda. Warna-warni yang dapat kita lihat dan rasakan adalah hasil dari kegiatan semua bagian-bagian in secara serempak dan selaras. Mata, dengan jaringan-jaringan dan organ-organnya seperti lachrymal glands, cornea, conjuctiva, iris dan pupil, lensa, retina, choroid, otot-otot dan kelopak mata, adalah sistem yang tak ada taranya. Selain itu, dengan jaringan syaraf yang luar biasa yang meyambungkan mata dengan otak, dan daerah penglihatan yang sangat kompleks, mata, secara keseluruhan mempunyai struktur yang sangat khusus, yang keberadaannya tidak dapat dihubungkan dengan suatu kebetulan belaka.
Setelah pengantar singkat tentang mata, marilah kita lihat juga bagaimana terjadinya suatu proses melihat. Sinar yang diterima mata mula-mula melewati kornea, lalu pupil dan lensa-lensa, dan akhirnya mencapai retina.
Penginderaan warna dimulai pada sel-sel kerucut di retina. Ada tiga kelompok sel kerucut utama yang bereaksi sangat kuat terhadap warna-warna tertentu dari cahaya. Sel-sel itu dikelompokkan sebagai sel-sel kerucut biru, hijau dan merah. Warna-warna merah, biru dan hijau, yang membuat sel-sel kerucut itu bereaksi, adalah tiga warna primer yang ada di alam. Dengan rangsangan dari sel-sel kerucut yang sensitif terhadap ketiga warna ini, pada tingkat yang berbeda, muncullah jutaan warna-warni yang berbeda.
Sel-sel kerucut mengubah informasi yang berhubungan dengan warna ini menjadi impuls-impuls syaraf melalui pigmen-pigmen yang terkandung di dalamnya.8 Selanjutnya, sel-sel syaraf yang terhubung dengan sel-sel kerucut ini mengirimkan impuls-impuls syaraf ini ke suatu daerah tertentu dalam otak. Dalam daerah seluas beberapa sentimeter persegi di dalam otak inilah tempat dibentuknya dunia penuh warna yang kita lihat sepanjang hidup kita.
5. Sebuah Dunia Penuh Warna dalam Otak Kita yang Gelap
Tahap terakhir dalam pembentukan warna terjadi di dalam otak. Seperti telah disebutkan dalam bab sebelum ini, sel-sel syaraf dalam mata mengangkut citra-citra yang telah diubah menjadi impuls-impuls syaraf ke otak dan segala sesuatu yang kita lihat di dunia luar diindera dalam pusat penglihatan otak. Sampai titik ini, kita dihadapkan pada suatu fakta yang menakjubkan: otak adalah segumpal daging yang berada dalam kegelapan. Impuls-impuls syaraf yang datang dari citra yang terbentuk di retina oleh objek-objek, diuraikan di dalam otak, yang dalamnya gelap. Citra dari objek-objek tersebut, dengan warna-warni dan sifat-sifat lainnya, dibentuk sebagai suatu persepsi di pusat penglihatan ini. Bagaimana proses penginderaan ini terjadi dalam segumpal daging lunak seperti itu?
Banyak tanda tanya yang muncul tentang bagaimana warna-warni dirasakan. Chromatists masih belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana impuls-impuls syaraf dikirimkan ke otak melalui syaraf-syaraf optik dan efek-efek fisiologi seperti apa yang tercipta dalam otak.9 Apa yang mereka tahu hanyalah bahwa penginderaan warna-warna sebagai kenyataan terjadi dalam tubuh kita, yaitu, dalam pusal penglihatan dalam otak kita.10 (Untuk informasi lebih rinci, lihat bab Rahasia Di Luar dari Zat).
Nyatanya, hampir semua proses yang dilakukan di dalam otak belum dapat diuraikan. Penjelasan-penjelasan tentang masalah ini sebagian besar berdasarkan teori-teori. Namun demikian, otak telah melakukan tugasnya dengan sempurna sejak saat manusia pertama kali ada, tepat seperti apa yang dikerjakannya saat ini. Pengalaman tentang dunia tiga dimensi, dengan semua warna-warninya, desain-desain, suara-suara, bau-bauan dan berbagai rasa, yang dialami oleh manusia dalam segumpal daging seberat hampir satu kilogram hanya mungkin karena ciptaan Allah yang sempurna. Semua orang menemukan ciptaan mengagumkan yang tiada taranya ini telah siap berfungsi saat lahir. Manusia tidak dapat mengontrol apapun, baik pembentukan fungsi-fungsinya, tidak juga kesinambungannya, atau pada tahap-tahap lainnya.
Tanda-tanda Kiamat
Di sepanjang sejarah, umat manusia telah memahami keagungan gunung-gunung dan luasnya langit, walaupun menggunakan metode-metode pengamatan yang masih primitif. Akan tetapi, mereka telah salah dalam mengira bahwa benda-benda tersebut akan ada selama-lamanya. Kepercayaan ini telah menjadi tulang punggung filsafat-filsafat politeisme dan materialisme Yunani, serta agama-agama di Sumeria dan Mesir.
Al-Qur’an memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yang memiliki kepercayaan yang demikian berada dalam kesalahan yang berat. Salah satu hal yang diwahyukan oleh Allah di dalam al-Qur’an adalah bahwasanya alam semesta ini telah diciptakan dan akan sampai pada titik akhirnya. Alam semesta ini akan, sebagaimana halnya umat manusia dan segala makhluk hidup lainnya, berakhir. Dunia yang teratur ini, yang berfungsi secara sempurna selama milyaran tahun, adalah karya Tuhan, Yang telah menciptakan segalanya, walaupun akan sampai juga pada titik akhir atas perintah-Nya, dan pada saat yang telah ditetapkan-Nya.
Waktu yang ditetapkan di mana alam semesta dan segala makhluk di dalamnya, mulai dari mikroorganisme hingga umat manusia, termasuk bintang-bintang dan galaksi-galaksi, akan sampai pada titik akhirnya, disebut as-Sa‘ah di dalam al-Qur’an. As-Sa‘ah ini bukannya menunjuk pada sembarang saat; namun adalah sebuah kata yang dipakai secara khusus di dalam al-Qur’an guna menunjukkan waktu tersebut tatkala dunia ini akan berakhir.
Seiring dengan pengumuman tentang akhir dunia ini, al-Qur’an mengandung gambaran terperinci mengenai proses kejadian tersebut: “Apabila langit terbelah,” “Ketika lautan dijadikan meluap,” “Tatkala gunung-gunung beterbangan,” “Apabila matahari digulung ...” kengerian dan kepanikan yang dialami oleh orang-orang ketika bencana yang mengerikan itu terjadi diceritakan secara rinci di dalam al-Qur’an; ayatayat tersebut menandaskan bahwa tak ada jalan untuk meloloskan diri dan tak ada tempat untuk sembunyi. Yang dapat kita simpulkan dari hal ini adalah bahwasanya akhir dunia ini akan berupa suatu bencana sedemikian rupa yang belum pernah dialami dunia sebelumnya. Rincian mengenai kejadian tersebut juga dapat dijumpai dalam buku-buku kami lainnya yang berjudul, The Day of Resurrection (Hari Kebangkitan), Death Resurrection Hell (Kematian Kebangkitan Neraka). Buku yang Anda baca ini akan memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang Hari Akhir (Kiamat).
Pertama-tama, harus dinyatakan bahwa sudah jelas dari sekian banyak ayat al-Qur’an, bahwa pokok pembahasan ten-tang akhir dunia yang tak terelakkan ini telah menarik perhatian manusia dalam setiap periode sejarah. Dalam beberapa ayat tertentu, diceritakan bahwa orang-orang telah bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang kapan terjadinya akhir dunia ini:
Mereka menanyakan kepadamu tentang as-Sa‘ah: “Bilakah terjadinya?” …(Q.s. al-A‘raf: 187).
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit (as-Sa‘ah), kapankah terjadinya? (Q.s. an-Nazi‘at: 42).
Allah memerintahkan Nabi saw. untuk menjawab pertanyaan ini sebagai berikut: “… Pengetahuan tentang hal itu berada di sisi Tuhanku …” (Q.s. al-A‘raf: 187), yang artinya bahwa hanya Dia Yang tahu kapan terjadinya as-Sa‘ah itu. Dari ayat ini kita memahami bahwa pengetahuan tentang kapan tibanya as-Sa‘ah itu tersembunyi bagi manusia.
Tentu ada suatu alasan ilahiah mengapa Tuhan kita merahasiakan waktu dari as-Sa‘ah ini. Misalnya, ada baiknya bagi semua orang, entah pada abad berapapun mereka hidup, untuk “… merasa takut akan tibanya as-Sa‘ah (Hari Kiamat)” (Q.s. al-Anbiya’: 49), dan agar memikirkan dengan mendalam akan kekuasaan Allah yang agung dan tak terbatas. Sebelum hari yang sangat penuh penderitaan tersebut datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka hendaknya memahami bahwasanya, selain Allah, tak ada tempat untuk berlindung. Andaikata kapan terjadinya as-Sa‘ah tersebut diketahui, orang-orang yang hidup sebelum masa sekarang tidak akan merasa tergugah untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh mengenai akhir dunia ini; mereka akan tidak peduli terhadap peristiwaperistiwa terakhir yang digambarkan di dalam al-Qur’an.
Namun, harus diterangkan bahwa ada banyak ayat yang memberitahukan tentang as-Sa‘ah itu, dan bila kita menelaahnya kita pun menemukan suatu kebenaran yang besar. Al-Qur’an tidak menunjukkan kapan terjadinya as-Sa‘ah itu, namun ia memberikan gambaran mengenai peristiwaperistiwa yang akan terjadi sebelumnya. Salah satu ayat menceritakan bahwa ada sekian banyak tanda-tanda as-Sa‘ah itu:
Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan Hari Kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Hari Kiamat sudah datang? (Q.s. Muhammad: 18).
Dari ayat ini kita mempelajari bahwa al-Qur’an memberikan gambaran mengenai tanda-tanda yang memberitahukan kedatangan Kiamat. Guna memahami tanda-tanda “pengumuman besar” tersebut kita harus merenungkan ayat-ayat ini. Jika tidak, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tadi, pemikiran kita akan tidak berguna lagi manakala Kiamat itu tibatiba terjadi pada kita.
Sebagian dari apa yang disabdakan oleh Nabi saw. yang telah sampai kepada kita menerangkan mengenai tanda-tanda as-Sa‘ah tersebut. Dalam hadis-hadis Nabi saw. ini, terdapat tanda-tanda as-Sa‘ah dan informasi rinci mengenai periode yang mendahuluinya. Periode ini, di mana tanda-tanda as-Sa‘ah itu akan terjadi, disebut “Akhir Zaman”. Perkara tentang Akhir Zaman dan tanda-tanda as-Sa‘ah ini telah menarik banyak perhatian di sepanjang sejarah Islam; ia telah menjadi pokok pembahasan dalam banyak karya para ulama dan peneliti Islam.
Bila kita kumpulkan semua informasi ini bersama-sama, kita pun sampai pada sebuah kesimpulan yang penting. Ayatayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw. menunjukkan bahwa Akhir Zaman terbagi menjadi dua tahap. Periode pertama adalah di mana cobaan-cobaan material dan spiritual akan menimpa dunia ini; periode kedua yang datang disebut sebagai Zaman Keemasan, suatu masa di mana ajaran moral al-Qur’an akan mendominasi, menghasilkan kesadaran yang mendalam mengenai kebaikan pada diri semua manusia. Manakala Zaman Keemasan ini berakhir, dan setelah dunia ini mulai memasuki sebuah periode kemunduran sosial, maka kedatangan Kiamat pun sudah pasti.
Maksud buku ini adalah untuk menelaah tanda-tanda as-Sa‘ah tersebut melalui ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw., dan untuk memperlihatkan bahwa tanda-tanda ini telah mulai muncul pada zaman kita. Fakta bahwa kedatangan daripada tanda-tanda ini telah diwahyukan empat belas abad yang lalu hendaknya meningkatkan keimanan seorang mukmin kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Halaman halaman berikut telah ditulis dengan mencamkan baik-baik janji Tuhan kita:
“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya ...” (Q.s. an-Naml: 93).
Kendati demikian, ada satu hal khusus yang penting bahwa kami ingin menarik perhatian pembaca terhadap: Allah tahu hakikat segala sesuatu. Sedangkan dalam segala hal, apa yang kita ketahui tentang akhir dunia ini hanya datang dari apa yang telah diwahyukan-Nya kepada kita.
Senin, 16 November 2009
HIKMAH BERBAKTI KEPADA KEDUA IBU DAN BAPAK
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu hairan, "Kubah apakah gerangan ini?" fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya."Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman kehairanan."Aku adalah manusia", jawab pemuda itu perlahan."Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?" tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit."Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya." Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu."Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?" tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut."Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.""Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?""Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."
"Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?" tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan."Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam." Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH
Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit. Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu. 1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia. 2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia. 3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya. Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."



